JANGAN NGOTOT, CUY...

“Jangan ngotot, cuy...” menjadi jenaka jika disampaikan dengan gaya cool-nya anak-anak milenial. Menjadi mesra jika dikatakan sambil mencolek dagu lawan bicara. Bisa jadi garang kalau diucapkan sambil melotot dan mulut sedikit dimonyongkan. Begitulah cara dan nada bicara dapat mempengaruhi makna ungkapan.

Ilustrasi di atas menggambarkan bahwa pesan yang diterima bergantung pada bagaimana kemasan penyampaiannya. Maka amatlah bijak ketika kita mampu memahami bagaimana teknik mengemas dan menyajikan sebuah gagasan baik agar tepat tujuan, selain menguasai materi gagasan itu sendiri.

Cerdas kognitif saja belum cukup, Teman...

Kita juga perlu cerdas afektif, yakni cerdas emosional/temperamental. Yuk, terus belajar untuk meng-upgrade diri, supaya ngga cuma bisa ngotot mulu, cuy...

ANTOLOGI MUSIK HENING ‘GANG GENG GONG’

Melodi musik kehidupan tak selalu bernada minor dan mayor, bahkan ia tetap berirama meski dalam hening aksara. -anti kesuma-

#TantanganGurusiana

Hari ke-60/21032020

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search